Selasa, 11 Desember 2007

Televisi. mendidik atau membodohi?

TV, sebuah hiburan yang kini menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu TV menjadi pembawa informasi yang paling ampuh. Tak mengherankan jika TV merupakan media iklan yang paling laris, jauh di atas media cetak, radio, maupun internet. Tapi apa yang kita dapat ketika nonton TV? Kabar terbaru tentang artist yang terpaksa nyuci sendiri karena ditinggal pembantu mudik (sungguh berita yang sangat penting!!!), atau cerita sinetron yang dibuat-buat dan mudah ditebak (misteri si A ternyata anak dari majikannya), ataukah pelajaran agama yang hebat (seorang kyai punya ilmu seperti Avatar). Yang lebih ironis, acara-acara “bermutu tinggi” seperti di atas yang memiliki rating tinggi (walaupun diragukan kredibilitasnya). Sehingga banyak menyedot iklan. Makin senanglah produser membuat acara-acara demikian.
Lebih bagus lagi acara yang sekarang sedang digandrungi anak-anak, Si Entong, Si Eneng dan kawan-kawan. Sekilas tampak religius, dengan banyaknya ucapan Subhanallah dan Alhamdulillah. Tapi kalau dicermati, ternyata menjadi mengajarkan anak-anak berpikir instant, irrasional, bahkan mengarah ke tahayul. Dengan sekali berdoa, langsung apa yang diinginkan terkabul. Sama halnya Si Eneng, dari judulnya yang sering mengandung kata “ajaib”, sudah bisa ditebak betapa tingginya ilmu fisika yang digunakan dalam ceritanya.
TV, sebenarnya dapat membawa manfaat yang sangat besar, khususnya dalam penyampaian informasi. Tinggal bagaimana stasiun TV, pemasang iklan, juga masyarakat, dapat menghasilkan suatu system pertelevisian yang sehat. Dapat untung banyak, tapi tidak membodohi, kalau bisa justru mencerdaskan.

1 Komentar:

Pada 9 April 2008 16.03 , Blogger antown mengatakan...

saya sangat sepakat dengan tulisan sampeyan, mas. harusnya televisi kita sadar bahwa apa yang mereka tayangkan itu sudah keterlaluan dan tidak layak untuk dijual.
kita yang bodoh jadi semakin bodoh rasanya

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda